MENJELASKAN AGAMA TAO DI
CHINA DAN DI INDONESIA DEWASA INI
Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas kelompok pada
Mata Kuliah Agama Tao dan
konfusianisme
Dosen pembimbing
: Hj. Siti Nadroh, M.Ag
Disusun oleh:
Iis Solihah
1110032100025
Rita
Hardianti
1110032100015
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2012
Pendahuluan
Taoisme
sebagai organisasi keagamaan muncul di China pada abad ke 2 M. Namun sebelumnya
taoisme diperaktekan secara turun - temurun oleh orang-orang cina sejak lao-tse
meninggalkan ajarannya untuk kepentingan orang - orang yang membutuhkannya atau
haus dengan ajaran-ajaran dan guru tua yang bijaksana.
Taoisme
adalah salah satu dari agama pribumi orang cina dan ajaran-ajarannya diambil
dari tradisi klasik termasuk Huang - lao, suatu tradisi yang diajarkan setelah
huang d I (cerita raja kuning ), lao-tzu dan diikuti oleh para
pengikt-pengikutnya yang setia selama dinasti Han yang berkuasa di bagian barat
cina (206 SM-24 M) sampai sekarang ini.
A. Sejarah Dan Perkembangan Agama Tao Di China Dewasa
Ini
Taoisme
sebagai organisasi keagamaan muncul di Cina pada abad ke – 2M.Namun sebelumnya
Taoisme dipraktekan secara turun temurun oleh orang – orang Cina sejak Lao –
tse meninggalkan ajarannya untuk kepentingan orang – orang yang membutuhkannya
atau haus dengan ajaran – ajaran dari guru tua yang bijaksana.
Taoisme
salah satu dari agama pribumi orang china dan ajaran – ajarannya diambil dari
tradisi klasik termasuk Huang – Lao, suatu tradisi yang diajarkan setelah Huang
di ( cerita raja kuning ), Lao – tzu dan diikuti oleh para pengikut –
pengikutnya yang setia selama dinasti Han yang berkuasa di bagian barat china (
206 SM – 24 M ), sampai sekarang ini.[1]
Taoisme sekarang di
Cina dibagi dalam dua sekte besar, yaitu :
1.
Taoisme
Perdamaian Besar ( Taoism Of Great Peace )
2.
Taoisme Lima Gantang Beras ( Five Bushels Of
Rice )
Tapi
hanya taoisme lima gantang beras yang dapat hidup dan berlangsung sampai
sekarang ini, sedangkan taoisme perdamaian besar dilarang oleh penguasa –
penguasa feudal, mungkin organisasinya atau ajaran – ajarannya dianggap dapat
membahayakan kepentingan Negara China. Sebagaimana kita ketahui bahwa China
dikuasai oleh komunis dan keyakinan keagamaan penduduk sangat dikontrol oleh
pemerintah.
Segala
sesuatu yang dianggap merugikan kepentingan komunis akan segara dimusnahkan
bahkan tidak diberi kesempatan untuk hidup. Kasus serupa juga terjadi pada
ajaran Khonghucu, sehingga Khonghucuisme sulit berkembang di China, karena
ajaran – ajarannya dianggap dapat membawa orang china kembali ke system lama,
system dimana orang china berada dibawah kekuasaan Raja. Zhang Doaling ( juga
dikenal sebagai kelompok guru surga ) dia adalah yang memunculkan Taoisme Lima
Gantang Beras dan dianggap pendiri dari Taoisme sekarang ini.
Akibat
dukungan dari para raja – raja Tang ( 618-907 ) dan dinasti – dinasti Song. (
960-1279 ), Taoisme berkembang sampai sekarang dan menjadi agama penting di
Cina, selain Buddha dan agama Khonghucu ( Konfusius )
Lao
– tzu yang pertama kali mendirikan sekolah Qin Taoist, dipuja sebagai nenek
moyang Taoisme, dan ide mengenai jalan ( Tao ) yang terdapat dalam The Book of
The Way Power merupakan dasar dari Agama. Para pengikut Taoisme meyakini bahwa
jalan ( Tao ) asal mula dari alam dan menciptakan semua makhluk – makhluk
hidup, oleh karena itu mereka memuja semua yang hidup di alam dan segala
sesuatu yang lain yang diciptakan oleh alam.
Pada
abad ke 12, Taoisme sedikit demi sedikit dibagi dalam du bagian yaitu : Taoisme
Chuan – Chen dan Taoisme Cheng – i. Pendeta – pendeta dari Taoisme Chuan – Chen
meninggalkan keluarga mereka dan hidup di klenteng – klenteng atau wihara –
wihara. Mereka tidak makan daging – daging dan hidup dengan penuh kesederhanaan
untuk menjadi abadi. Banyak pendeta Taoisme Cheng – I hidup dengan keluarganya
dan tidak menolak makan daging, dan umumnya mereka membantu orang lain untuk
mendapatkan keberuntungan dan menjauhkan diri dari hal – hal yang jelek.[2]
Diantara
banyak dewa dipuja oleh para penganut agama Tao, Tuhan maha pencipta, Tuhan
adalah roh yang suci, dan Tuhan adalah jalan penguasa ( Lao tze ) yang
dipandang sebagai dewa – dewa tertinggi, dan Tuhan jalan dari kekuatan, juga
dikenal sebagai Tuhan Lao Tze tertinggi, yang dipuja oleh banyak orang secara
luas, terutama dikalangan penganut Tao di Tiongkok.
Banyak
dari klenteng – klentengnya Tao di bangun di atas gunung, dimana menurut
tradisi keabadian menjadi hidup atau para pengikut Taoisme di masa lampau telah
mempraktekan hidup sederhana dan menjadi abadi. Klenteng – klenteng atau tempat
– tempat ibadah para penganut Tao yang terkenal adalah Baiyun ( awan putih )
sebuah klenteng yang terletak di kota Beijing ( ibukota Tiongkok ).
Pada
masa sekarang terdapat tidak kurang dari 1600 klenteng Tao di China, dan lebih
dari 25.000 rumah – rumah pendeta dan pendeta wanita Tao yang setiap hari mengabdikan
dirinya untuk kepentingan agama maupun pelayanan pada umat Tao yang membutuhkan
pertolongannya.
Sebagai
agama yang setara dengan agama – agama dunia lainnya, agama tao juga memiliki
organisasi keagamaan. Organisasi agama tao di china dibangun pada tahun 1975
tepatnya di kota Beijing, yang merupakan suatu organisasi dunia atau
internasional, yang dipimpin oleh Min Zhiting. Organisasi ini muncul ditengah –
tengah masyarakat dan hidup bersama –sama dengan organisasi keagamaan lainnya.
Untuk memajukan dan mengembangkan kebudayaan tao masa lampau, organisasi agama
Tao telah menerbitkan banyak karya – karya klasik Tao.
Organisasi
Tao di China mempunyai sebuah jurnal yang diberi nama China Tao ( Tao orang
China ) yang diterbitkan beberapa bulan sekali yang diedarkan ke rumah – rumah,
terutama para penganut Tao yang berlangganan, dan keseluruh dunia. Dengan
diterbitkannya jurnal agama Tao ini, maka para penganut agama Tao di seluruh
china dan dunia dapat mengetahui perkembangan agama tao setiap tahunnya di
china.Perkumpulan Tao ini juga masuk dalam anggota dari perkumpulan dunia
mengenai agama dan perlindungan lingkungan.
Selain
itu di China juga terdapat lembaga
pendidikan tao, yang setingkat akademi. Akademi Tao China ini, didirikan pada
tahun 1990, menyediakan kelas khusus untuk mengajar murid – murid menjadi
personil menejer di klenteng – klenteng Tao dan menyediakan kelas yang lebih
tinggi untuk melakukan penelitian dan mengajarkan ajaran Tao.Ratusan mahasiswa
telah menyelesaikan pendidikannya di akademi yang telah dibentuk ini.Mahasiswa
yang telah menamatkan pendidikan ini, telah bekerja disegala bidang pekerjaan,
khususnya yang berhubungan dengan keagamaan Tao.
Agama
tao di China telah melakukan hubungan dengan agama Tao diseluruh dunia,
khususnya dalam 20 tahun yang lalu, sejak orang – orang China menerapkan
reformasi dan politik terbuka. Perkumpulan Tao China dan klenteng – klenteng
Tao di berbagai tempat yang berbeda di China saling berhubungan dan pertukaran
kunjungan dengan pendeta – pendeta Tao dan organisasi – organisasi Tao di
seluruh dunia.
Pada
tahun 1993, pengikut Tao dari klenteng – klenteng di daratan China, Hongkong dan Taiwan bersama
– sama mengadakan upacara besar di klenteng Baiyun di kota Beijing. Berdasarkan
informasi yang didapatkan dari para pendeta Tao di China tahun 2004, bahwa
agama Tao di China pada saat ini menempati urutan kedua terbesar dari agama
Buddha, dan mereka dapat hidup berdampingan dengan agama lain di China.[3]
B. Perkembangan
Agama Tao Di Indonesia
Pada
zaman orde baru, agama Tao terbelenggu oleh pemerintah.Tidak boleh ada yang
berbau Tao, termasuk juga tradisi – tradisi agama Tao, seperti Tahun baru imlek
dan upacara – upacara ritual keagamaan, dan lain sebagainya. Akibatnya generasi
yang lahir pada zaman orde baru itu menjadi kehilangan identitas dan tidak tahu
lagi apa agama Tao itu sebenarnya, dan masyarakat yang menganut agama tao pada
saat itu diminta untuk pindah ke agama lain, dan hanya tinggal tersisa sedikit
orang yang masih setia menganut agama Tao, meski tidak secara terbuka.
Yang
lainnya masih menganut agama Tao, tetapi karena mereka takut dan dibatasi –
dibatasi oleh pemerintah, kemudian hanya tahu sembahyang saja, tetapi tidak
tahu lagi ritual – ritual Tao lainnya.Bahkan banyak yang menjurus ke pemahaman
mistis / tahayul.
Hal
itu diperparah dengan adanya hal – hal yang menjelekan agama Tao itu sendiri
dari kelompok tertentu, seperti misalnya agama Tao itu penyembah berhala dan
tidak percaya kepada Tuhan.Selain itu juga agama tao adalah agama yang kuno,
karena masih bersembahyang di kelenteng yang gelap.Kemudian mereka ikut agama
yang lebih modern, misalnya saja bisa beribadah di mall atau bioskop.Hal inilah
yang menjadikan anak muda lebih tertarik kepada hal keduniawian seperti itu.
Akibatnya
ketika saat sekarang ini generasi – generasi muda ( khususnya orang Tionghoa
beragama Tao ) yang identitasnya sudah dihilangkan menjadi tidak mengerti, dan
orang tua yang hidup dan membawa agama tao ke Indonesia sudah pada meninggal
dan tidak mewariskan kepada anaknya, menjadi tidak tahu juga tentang agama tao.
Jadi
tidaklah heran kalau ada anak kecil sekarang bertanya kepada orang tuannya : “
pak kok kita sembahyang sich ? Memangnya agama kit apa ?” Bapaknya yang
kebingungan dan tidak tahu mesti jawab apa, yah tinggal bilang, “ Nak ini agama
leluhur, sejak dulu kakek buyut kamu sudah bersembahyang seperti ini.” Inilah
asal muasal kata agama leluhur.
Gara
– gara masalah seperti diataslah agama Tao jadi terpuruk sedemikian hingga saat
ini. Saat ini banyak yang sudah tidak lagi mengenal ajaran Tao, dan lebih
berfokus pada ajaran “ gado – gado “ atau ajaran agama lain. Ini adalah salah
satu masalah yang harus dihadapi, yaitu bagaimana menarik kembali umat yang
sudah keluar atau pemahamannya sudah melenceng jauh.
Yang
harus dilakukan saat ini adalah bagaimana membuat agama Tao menjadi sebuah
agama resmi di Indonesia, karena hal ini sudah banyak di negara – negara luar
seperti singapura, China, bahkan Amerika serikat pun ada.
Menurut
pemakalah jika langkah tersebut diambil maka dengan demikian baru dapat
meluruskan kembali ajaran mengenai agama Tao. Tapi kalau seandainya langkah itu
yang di ambil, maka akan ada “ yang dikorbankan “ dalam hal ini adalah mereka –
mereka yang tidak mengenal Tao, tetapi melaksanakan praktik dalam agama Tao.
Banyak
sumber daya yang diperlukan untuk lebih memperkenalkan Tao ini keseluruh
lapisan masyarakt Indonesia, diantaranya uang, waktu dan sumber daya manusia.[4]
Uang : tidak semua umat
Tao adalah konglomerat yang memiliki dana, ada juga umat tao yang hidup pas –
pas- an atau melarat.
Waktu : dalam agama Tao
tidak ada yang hidup mengkhususkan diri dalam menyebarkan agama tao. Semua umat
Tao haruslah mandiri, bekerja dan menghasilkan uang untuk keperluannya masing –
masing.
Sumber daya manusia :
diperlukan banyak keahlian untuk mengembangkan Tao, tidak cukup hanya mampu
menjabarkan ajaran Tao.
C. Praktek keagamaan Tao
Berikut adalah beberapa praktek keagamaan Tao :
Berikut adalah beberapa praktek keagamaan Tao :
a. Asal Usul Adanya
Sam Seng Dan Persembahan Pada Dewa
Pada
jaman dahulu sudah banyak orang-orang yang datang ke klenteng mencari Tao Se -
Tao Se (Guru-guru Tao) untuk meminta bantuan atau pertolongan.Ada yang
menanyakan nasib dan jodoh mereka, dan ada juga untuk penyembuhan
penyakit-penyakit serta meminta obat-obatan.Tetapi pada bulan-bulan tertentu
Tao Se - Tao Se itu tidak ada di klenteng karena mencari obat-obatan di hutan
atau di pegunungan, seperti ginseng, jamur, dan lain-lainnya.Dalam pencarian
obat ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya.
Untuk
itu para Tao Se membuat Sam Seng supaya masyarakat atau orang-orang yang datang
dari jauh tidak kecewa karena Tao Se nya tidak berada di tempat.
Masyarakat
yang tertolong kemudian membawa oleh-oleh untuk Tao Se - Tao Se tersebut
sebagai tanda terima kasih.Karena Tao Se - Tao Se tidak berada di tempat, maka
diletakkan di atas meja sembahyang.Ada juga yang datang membawa persembahan
kepada Dewa.
Dari
sinilah timbulnya kebiasaan mempersembahkan sesuatu kepada Dewa.Pemberian
persembahan kepada Dewa ini kemudian menimbulkan persaingan di antara
masyarakat itu sendiri, sehingga timbullah persembahan Sam Seng.
Di
mana menurut pandangan masyarakat waktu itu Sam Seng mewakili 3 jenis hewan di
dunia, yaitu babi untuk hewan darat, ikan untuk hewan laut, dan ayam untuk
hewan udara.Demikianlah persembahan ini berlangsung secara turun-menurun sampai
sekarangpun masih ada. Dalam Tao, Sam Seng tidak digunakan sebagai persembahan
kepada Dewa. Jadi cukup dengan
buah-buahan saja, antara lain: apel, pear, jeruk, anggur, dll. Yang penting
adalah buah-buahan yang segar dan tidak berduri serta serasi dipandang
mata.
b. Yin Shen Jie Fu [Ying Sen Ciek
Fuk] - Sembahyang Tahun Baru Imlek
Biasanya satu minggu sebelum
tanggal satu bulan satu Imlek, yang sudah berumah tangga, semua anggota
keluarga membersihkan rumah secara keseluruhan. Semua Hu yang sudah berubah
warna (agak keputihan) dilepas dan diganti dengan baru, Hu yang lama dibakar.
Meja sembahyangan dibersihkan, patung-patung Dewa Dewi diturunkan, dicuci dengan sabun dan dibilas dengan air bunga agar bersih dan wangi. Nah meja sembahyangan dan patung-patung ditata kembali dengan rapi dan siap menyambut tahun baru. Persiapan apa saja yang dibutuhkan:
Satu atau dua hari sebelum hari H
tiba, yaitu tanggal satu bulan satu tahun baru Imlek. Buah-buahan dengan
jumlah masing-masing lima buah, lima jenis (apel, jeruk, pear, anggur, jeruk
besar, dll) dan rangkap dua, artinya untuk meja sembahyangan Thian Kung satu
set dan untuk meja sembahyangan yang didalam rumah satu set. Hindari memilih
jenis buah yang berduri (salak, nanas, dan lainnya). [5]
Meja sembahyangan Tian Gong [Thian
Kung] disiapkan. Kemudian Hio besar sesuai kebutuhan, minimum dua batang. Hio
kecil secukupnya tergantung anggota keluarga yang ingin sembahyang,
masing-masing anggota 12 batang Hio pada tiap meja sembahyang.
Lilin yang pantas 2 batang tiap meja (jangan terlalu tinggi dan besar) sebagai penerangan. Bunga segar untuk meja bila mampu, sebagai pewangi. Xiang Lu [Hio Lo / tempat Hio] untuk meja Tian Gong. Bila tidak ada yang permanen, dapat dibuat dari kaleng susu besar, dibungkus dengan kertas merah dan diisi beras. Cangkir kecil (Jiu Jing), tempat teh sebanyak 5 buah untuk masing-masing meja sembahyang. Juga teh jangan lupa.
Permen satu piring kecil sebagai
pemanis untuk masing-masing meja sembahyang. Minyak wangi disemprotkan ke
tangan anggota keluarga saat sebelum sembahyang. Kain merah sebagai taplak
meja Tian Gong.
Penyusunan / Persiapan Sembahyang
Letakkan meja Tian Gong menghadap
Timur dengan langit-langit terbuka. Pasang taplak meja merah, letakkan kaca
diatasnya. Susun Xiang Lu [Hio Lo], cangkir teh setengah lingkaran, lilin
disamping kanan kiri, buah-buahan melingkar setengah lingkaran juga, bunga
dibelakang kanan kiri meja. Permen di sebelah kanan depan meja. Demikian pula
dengan susunan yang sama untuk meja sembahyang yang ada di dalam rumah.
Saat Sembahyang:
Waktu sembahyang pada tanggal satu
bulan satu tahun baru Imlek, jam 00:30 sampai 06:00 adalah yang paling baik.
Memakai pakaian yang rapi. menyususun permohonan permintaan untuk satu Tahun
Baru ini, agar tidak ada yang tertinggal. Kepala keluarga memimpin sembahyang
dengan Xiang [Hio] besar satu di hadapan Tian Gong, kemudian diikuti dengan
12 Xiang [Hio] kecil. Sembah sujud seperti biasa sembahyangan ,
permohonan-permohonan diutarakan.
Setelah selesai diikuti dengan
anggota keluarga yang lain, mulai dari pangkat yang tertinggi menurun.Kepala
keluarga melanjutkan sembahyang yang sama di meja sembahyangan dalam rumah
dengan pola yang sama. Setelah semuanya selesai, tunggu sebentar, sekitar 30
menit.
Bila situasi lingkungan tidak
mengijinkan, maka meja sembahyangan Tian Gong boleh diberesin / diangkat
semua persembahan yang ada, tinggalkan Xiang [Hio] nya saja. Bila situasi
mengijinkan maka dapat dibiarkan sampai pagi, sampai lilin dan Xiang [Hio]
terbakar habis.Kemudian pagi harinya dilanjutkan dengan adat keluarga
masing-masing, seperti berkunjung kerumah orang tua, orang yang dituakan,
dll.
Pokok utama dari kita Siu Tao
adalah kemantapan dan ketulusan hati (Jen Sin). Tidak perlu bermewah-mewahan,
sesuaikan dengan keadaan ekonomi yang ada. Kalau "ada" baik, kalau
sampai tidak adapun bukan suatu hambatan untuk Siu Tao, untuk sembahyangan
Yin Shen Jie Fu. Apa-apa yang kita persembahkan, kesemuanya hanyalah
penggembira.
Ditinjau dari kaca mata manusia.
Sedangkan Sen / Sien (Dewa-Dewi) sendiri, tidak makan apa yang kita
persembahkan itu. Jadi ketulusan dan kemantapan hati (Jen Sin) ditambah Wu,
menuju Cen-lurus (Siu Cen) itulah tujuan pokok utama kita Siu Tao.
Kembali ke Yim Yang (Thay Cik) kita. Keseimbangan, keselarasan itulah kehidupan yang kita jalani. |
Upacara Pernikahan.
Dalam
kehidupan seseorang, suatu pernikahan merupakan saat-saat yang penting dan
tidak terlupakan. Sepasang calon pengantin akan dengan penuh semangat
menyiapkan segala sesuatu untuk hari bahagia tersebut. Tentu saja hal ini
memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, tetapi walaupun lelah, pada wajah
mereka tersirat harapan akan kebahagiaan.
Harapan-harapan itulah yang membuat mereka berdua mempunyai keinginan agar kebahagiaan mereka tersebut dapat disaksikan dan disahkan, serta direstui oleh Thian dan para Dewa.Rasanya lebih mantap.Maka kemudian timbul berbagai upacara sembahyang di hari pernikahan, baik yang sederhana - sembahyang di rumah menghadap langit sebelah timur dengan sebuah hio diatas kepala - sampai pernikahan yang diadakan di Taokwan atau Kelenteng, tentu saja dengan berbagai pernak-perniknya.
Harapan-harapan itulah yang membuat mereka berdua mempunyai keinginan agar kebahagiaan mereka tersebut dapat disaksikan dan disahkan, serta direstui oleh Thian dan para Dewa.Rasanya lebih mantap.Maka kemudian timbul berbagai upacara sembahyang di hari pernikahan, baik yang sederhana - sembahyang di rumah menghadap langit sebelah timur dengan sebuah hio diatas kepala - sampai pernikahan yang diadakan di Taokwan atau Kelenteng, tentu saja dengan berbagai pernak-perniknya.
Dalam
Tao ada ritual tersebut dan tata caranya tidak rumit.Diatas altar Maha Dewa
kita, diletakkan 5 macam buah sebagai lambang dari U Fuk (Lima kebahagiaan).Di
kanan-kiri hiolo terdapat 9 pasang lilin merah yang diatur dari yang pendek ke
yang tinggi.Sebagai pemanis, diletakkan rangkaian bunga.Ada pula yang memasang
kain merah untuk semakin memeriahkan ruangan.
Begitu tiba, pengantin dijemput oleh sepasang Huang Ie yang bertugas sebagai penjemput pengantin.Mereka dibawa ke ruang upacara dengan diiringi lagu Kwe Ming Li. Upacarapun segera dimulai.Pemimpin upacara yang berjumlah 3 orang memimpin para Fu Fak untuk sembahyang. Setelah para Fu Fak berdiri di kanan-kiri tempat upacara, barulah pengantin dan orang tua mereka diantar ke depan altar untuk sembahyang, diiringi lagu Kung Huo. Pengantin beserta orang tua sembahyang dengan menggunakan 1 hio besar dipimpin oleh salah seorang pemimpin upacara.
Begitu tiba, pengantin dijemput oleh sepasang Huang Ie yang bertugas sebagai penjemput pengantin.Mereka dibawa ke ruang upacara dengan diiringi lagu Kwe Ming Li. Upacarapun segera dimulai.Pemimpin upacara yang berjumlah 3 orang memimpin para Fu Fak untuk sembahyang. Setelah para Fu Fak berdiri di kanan-kiri tempat upacara, barulah pengantin dan orang tua mereka diantar ke depan altar untuk sembahyang, diiringi lagu Kung Huo. Pengantin beserta orang tua sembahyang dengan menggunakan 1 hio besar dipimpin oleh salah seorang pemimpin upacara.
Seusai
sembahyang, orang tua pengantin dipersilahkan duduk di tempat yang telah
disediakan.Orang tua mempelai pria di sebelah kanan dan orang tua mempelai
wanita di sebelah kiri.Acara Cing Ciu (Mempersembahkan arak) dimulai. Dengan
diiringi lagu Syiek Suang Jing atau terima kasih, kedua mempelai Kui (bersujud)
mempersembahkan arak sebagai lambang hormat serta terima kasih mereka kepada
orang tua yang telah membesarkan, mendidik serta memberikan kasih sayang
sehingga dewasa dan dapat mulai menempuh sebuah kehidupan sendiri yang mandiri.
Acara dilanjutkan dengan suatu Tanya jawab antara pemimpin upacara dengan
pengantin.Para pemimpin upacara berhak menilai apakah kedua mempelai memang
cukup layak secara mental untuk membangun sebuah rumah tangga
sendiri.Selanjutnya adalah Acara Tukar Cincin.Dengan diiringi lagu Se Yen (Kuucap
janji), mempelai berdua saling mengikatkan diri.Para pemimpin upacarapun
memberikan beberapa nasehat yang berguna dalam kehidupan pernikahan mereka
kelak.Puncaknya pernikahan disahkan dengan memberikan simbol berupa kalungan
hati kepada masing-masing pengantin, yang kemudian disatukan dengan sebuah
kalungan besar berbentuk hati juga, sebagai tanda bersatunya dua hati.Hadirin
serentak memberikan tepuk tangan sambil menyanyikan lagu Cu Fuk, yang berarti
selamat berbahagia.
Upacara diakhiri dengan ucapan
selamat dari para pemimpin upacara beserta Fu Fak yang lalu diikuti oleh
keluarga dan hadirin.Sebelum meninggalkan Taokwan, kedua mempelai sembahyang
mengucapkan terima kasih. Lagu Gembira Ria dan Tao Ciao Ti Ce (Umat
Tao)mengantar kepergian mereka. Demikianlah, dua buah hati telah menjadi satu,
bahu membahu menempuh sebuah kehidupan yang baru.
Adat upacara kematian Taoisme dilator
belakangi hal-hal berikut:
Mereka
mempercayai bahwa dalam relasi seseorang dengan Tuhan atau kekuatan-kekuatan
lain yang mengatur kehidupan baik langsung maupun tidak langsung, berlaku
hal-hal sebagai berikut:
• Adanya reinkarnasi bagi semua manusia yang telah meninggal (cut sie)
• Adanya hukum karma bagi semua perbuatan manusia, antara lain tidak mendapat keturunan.
• Leluhur yang telah meninggal (arwah leluhur) pada waktu-waktu tertentu dapat diminta datang untuk dijamu (Ce’ng be’ng)
• Menghormati para leluhur dan orang pandai (tuapekong)
• Kutukan para leluhur, melalui kuburan dan batu nisan yang dirusak (bompay)
• Apa yang dilakukan semasa hidup (di dunia) juga akan dialami di alam akhirat. Kehidupan sesudah mati akan berlaku sama seperti kehidupan di dunia ini namun dalam kualitas yang lebih baik.
• Adanya reinkarnasi bagi semua manusia yang telah meninggal (cut sie)
• Adanya hukum karma bagi semua perbuatan manusia, antara lain tidak mendapat keturunan.
• Leluhur yang telah meninggal (arwah leluhur) pada waktu-waktu tertentu dapat diminta datang untuk dijamu (Ce’ng be’ng)
• Menghormati para leluhur dan orang pandai (tuapekong)
• Kutukan para leluhur, melalui kuburan dan batu nisan yang dirusak (bompay)
• Apa yang dilakukan semasa hidup (di dunia) juga akan dialami di alam akhirat. Kehidupan sesudah mati akan berlaku sama seperti kehidupan di dunia ini namun dalam kualitas yang lebih baik.
Upacara-Upacara
Yang Dilaksanakan dalam Kematian
Upacara
kematian terdiri atas empat tahap yaitu sebelum masuk peti , upacara masuk peti
dan penutupan peti , upacara pemakaman dan upacara pemakaman.
a. Belum masuk peti
- Semenjak
terjadinya kematian, anak-cucu sudah harus membakar kertas perak (uang di
akhirat ) merupakan lambang biaya perjalanan ke akhirat yang dilakukan
sambil mendoakan yang meninggal.
- Mayat
dimandikan dan dibersihkan, lalu diberi pakaian tujuh lapis. Lapisan
pertama adalah pakaian putih sewaktu almarhum/almarhumah menikah.
Selanjutnya pakaian yang lain sebanyak enam lapis.
- Sesudah
dibaringkan; kedua mata, lubang hidung, mulut, telinga, diberi mutiara
sebagai lambang penerangan untuk berjalan ke alam lain.
- Di
sisi kiri dan kanan diisi dengan pakaian yang meninggal. Sepatu yang
dipakai harus dari kain. Apabila yang meninggal pakai kacamata maka kedua
kaca harus dipecah yang melambangkan bahwa dia telah berada di alam lain.
b.
Upacara masuk peti dan penutupan peti
- Seluruh
keluarga harus menggunakan pakaian tertentu. Anak laki-laki harus memakai
pakaian dari blacu yang dibalik dan diberi karung goni. Kepala diikat
dengan sehelai kain blacu yang diberi potongan goni. Demikian pula pakaian
yang dipakai oleh anak perempuan namun ditambah dengan kekojong yang
berbentuk kerucut untuk menutupi kepala. Cucu hanya memakai blacu, sedangkan
keturunan ke empat memakai pakaian berwarna biru. Keturunan ke lima dan
seterusnya memakai pakaian merah sebagai tanda sudah boleh lepas dari
berkabung.
- Mayat
harus diangkat oleh anak-anak lelaki almarhum. Sementara itu
anakperempuan, cucu dan seterusnya harus terus menangis dan membakar
kertas perak, di bawah peti mati. Mereka harus memperlihatkan rasa duka
cita yang amat dalam sebagai tanda bakti (uhaouw). Bila kurang banyak
(tidak ada) yang meratap, maka dapat menggaji seseorang untuk meratapi dengan
bersuara, khususnya pada saat tiba waktunya untuk memanggil makan siang
dan makan malam.>
- Sesudah
masuk peti, ada upacara penutupan peti yang dipimpin oleh hweeshio atau
cayma. Bagi yang beragama Budha dipimpin oleh Biksu atauBiksuni, sedangkan
penganut Konfusius melakukan upacara Liam keng.Upacara ini cukup lama,
dilaksanakan di sekeliling peti mati dengan satusyarat bahwa air mata
peserta pada upacara penutupan peti tidak boleh mengenai mayat. Dalam
upacara ini juga dilakukan pemecahan sebuah kaca/cermin yang kemudian
dimasukkan ke dalam peti mati. Menurut kepercayaan mereka, pada hari ke
tujuh almarhum bangun dan akan melihat kaca sehingga menyadarkan dia bahwa
dirinya sudah meninggal.
- Bagi
anak cucu yang “berada” (kaya), mulai menyiapkan rumah-rumahan yang diisi
dengan segala perabotan rumah tangga yang dipakai semasa hidup almarhum.
Semuanya harus dibuat dari kertas. Bahkan diperbolehkan diisi secara
berlebih-lebihan, termasuk adanya para pembantu rumahtangga. Semua
perlengkapan ini dapat dibeli pada toko tertentu.
- Setiap
tamu-tamu yang datang harus di sungkem (di soja) oleh
- anak-anaknya,
khusus anak laki-laki.
- Di
atas meja kecil yang terletak di depan peti mati, selalu disediakan
makanan yang menjadi kesukaan semasa almarhum masih hidup.
- Upacara
ini berlangsung berhari-hari. Paling cepat 3 atau 4 hari. Makin lama
biasanya makin baik. Dilihat juga hari baik untuk pemakaman.
- Selama
peti mati masih di dalam rumah, harus ada sepasang lampion putih yang
selalu menyala di depan rumah. Hal ini menandakan bahwa ada orang yang
meninggal di rumah tersebut.
c. Upacara pemakaman
- Menjelang
peti akan diangkat, diadakan penghormatan terakhir. Dengan dipimpin oleh
hwee shio atau cayma, kembali mereka melakukan upacara penghormatan.
- Sesudah
menyembah (soja) dan berlutut (kui), mereka harus mengitari peti mati
beberapa kali dengan jalan jongkok sambil terus menangis; mengikuti hwee
shio yang mendoakan arwah almarhum..
- Untuk
orang kaya, diadakan meja persembahan yang memanjang ?2 sampai 5 meter. Di
atas meja disediakan macam-macam jenis makanan dan buah-buahan. Pada
bagian depan meja diletakkan kepala babi dan di depan meja berikutnya
kepala kambing. Makanan yang harus ada pada setiap upacara kematian adalah
“sam seng”, yang terdiri dari lapisan daging dan minyak babi (Samcan),
seekor ayam yang sudah dikuliti, darah babi, telur bebek. Semuanya direbus
dan diletakkan dalam sebuah piring lonjong besar.
- Putra
tertua memegang photo almarhum dan sebatang bambu yang diberi sepotong
kertas putih yang bertuliskan huruf Cina, biasa disebut “Hoe”. Ia harus
berjalan dekat peti mati, diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain.
Begitu peti mati diangkat, sebuah semangka dibanting hingga pecah sebagai
tanda bahwa kehidupan almarhum di dunia ini sudah selesai.
- Dalam
perjalanan menuju tempat pemakaman, di setiap persimpangan, semua anak
harus berlutut menghadap orang-orang yang mengantar jenasah. Demikian pula
setelah selesai penguburan.
- Setibanya
di pemakaman, kembali diadakan upacara penguburan. Memohon kepada dewa
bumi (“toapekong” tanah) agar mau menerima jenasah dan arwah almarhum,
sambil membakar uang akhirat.
- Semua
anak – cucu tidak diperkenankan meninggalkan kuburan sebelum semuanya
selesai, berarti peti sudah ditutup dengan tanah dalam bentuk gundukan. Di
atas gundukan diberi uang kertas perak yang ditindih dengan batu kecil.
Masing-masing dari mereka harus mengambil sekepal /segenggam tanah kuburan
dan menyimpannya di ujung kekojong.
- Setibanya
di rumah, mereka harus membasuh muka dengan air kembang. Sekedar untuk
melupakan wajah almarhum.
d. Upacara sesudah pemakaman
- Semenjak
ada yang meninggal sampai saat tertentu, semua keluarga harus memakai
pakaian dan tanda berkabung terbuat dari sepotong blacu yang dilikatkan di
lengan atas kiri. Tidak boleh memakai pakaian berwarna ceria, seperti : merah,
kuning, coklat, oranye.
- Waktu
perkabungan berlainan lamanya, tergantung siapa yang meninggal,
- Untuk
kedua orangtua, terutama ayah dilakukan selama 2 tahun.
- Untuk
nenek dan kakek dilakukan selama 1 tahun.
- Untuk
saudara dilakukan selama 3 atau 6 bulan.
- Di
rumah disediakan meja pemujaan, rumah-rumahan dan tempat tidur almarhum.
Setiap hari harus dilayani makannya seperti semasa almarhum masih hidup.
D. Sejarah Neo Taoisme
Salah satu dari dua aliran filsafat dan juga
keagamaan dalam dunia Timur khususnya Cina selain Cofusianisme adalah Taoisme.
Taoisme sebenarnya ada sebelum Confucianisme. Hal ini diketahui karena menurut
para ahli sejarah cina figur Li Erh sama dengan figur legenda Lao Tan.
Selain itu munculnya ajaran Lao tan juga memperjelas hal ini.
“
mengganggap yang mendasar sebagai hakikat, dan memandang benda-benda sebagai
hal yang kasar. Mengangap penumpukan sebagai kekurangan. Hanya tinggal sendiri
tenang bersama dengan Roh dan Budi, inilah beberapa segi dari Tao. Para
tua-tua. Kuan Yin dan Lao Tan mendengar itu dan senang akan hal itu.” Kutipan
ini menyatakan bahwa ajaran Tao, sudah ada dalam taradisi para tua-tua jauh
sebelum Confucius. Para tua-tua itu adalah para pertapa yang tinggal di
lembah-lembah pegunungan dan mengikuti jalan mistik.
Kutipan ajaran diatas merupakan sepenggal
ajaran mistik para Taois. Namun sebenarnya ajaran Taoisme tidak hanya berupa
ajaran-ajaran moral dan mistik saja. Sering kali ketika mempelajari
Taoisme kebanyakan orang cenderung tertarik pada ajaran-ajaran moral seperti Wu
Wei dan Yin Yang dan masih banyak lagi. Salah satu hal yang paling
mendasar yang patut juga dipelajari dari Taoisme adalah ajaran mengenai konsep
“ Ada” atau metafisika. Dalam Taoisme konsep Ada diterjemahkan sebagai Tao.
Taoisme bertumpu pada pengertian mengenai Tao. Secara harafiah Tao artinya
jalan yang memberi arah. Sepintas konsep ini mirip dengan ajaran-ajaran moral,
tetapi sebenarnnya jauh lebih dalam, yaitu konsep “ Ada” ( dalam hal ini
saya memakai terminology barat). Kemudian muncullah Neo-Taoisme.
Neo taoisme adalah Bentuk Taoisme yang
berkembang di Cina pada abad 3 dan 4. Kekhawatiran utama adalah hubungan
antara penarikan pribadi untuk karakteristik sifat Taoisme, dan etika lebih s Jatuhnya
Han sekitar 400 tahun kemudian melihat munculnya gambar pandangan dunia diubah
pada teks dilestarikan yang kita sebut Neo-Taoisme. Penulis yang paling
berpengaruh, Wang Bi dan Guo Xiang yang menulis komentar masing-masing di Jing
taote dan Zhuangzi, adalah penganut Konghucu diakui. Filsafat mereka
diinvestasikan kembali semangat tabah yang mereka tafsirkan sebagai titik
mereka baru-Taoisme. Mereka menyatakan kombinasi aktivitas sosial
Konfusianisme dengan versi mereka kepasifan Taois dalam slogan abadi "Sage
dalam, raja tanpa." Mereka dibingkai mereka Taoisme sebagai semacam
kekosongan batin atau non-komitmen digabungkan dengan kesesuaian teliti dengan
peran aktual seseorang dalam waktu - apa pun nasib mungkin memilikinya.
Dengan demikian mereka pemeluk Khonghucu di luar dan Taois dalam.
Hal ini diuraikan, untuk Neo-Taois, konsep
wu-wei (non-deeming tindakan). Mereka ditopang ini ketabahan sosial
dengan sistem metafisik difokuskan pada teka-teki "menjadi dan non-being."
Topik menarik ini dari salah satu inklusi sering Laozi tentang pasangan ini
untuk mengilustrasikan teori kontras tentang bahasa. Mencoba untuk
mencari apa latar belakang yang kontras dan non-being dibentuk sebagai isu
utama bagi mereka "studi muskil." Wang Bi (300 ca.) mengambil
non-being untuk menjadi latar belakang dan dengan demikian untuk
"menimbulkan" menjadi . Dia ditafsirkan Laozi yang berdampingan
dengan panduan ramalan Confucianized kosmologis, Kitab Perubahan (I Ching atau
Yijing). Kitab Perubahan dengan yin-yang rekeningnya perubahan dan yang
kosmologi generasi sehingga masuk daftar teks Taois dan Jing taote berubah
dalam kebijaksanaan konvensional ke dalam kosmologi terpisah.
Daftar Pustaka
Arifin
Prof. HM, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar Dunia, Jakarta: Citra
Mandala Pratama,1987.
http://
universal. Hermantan.com/2009/05/gambaran perkembangan agama tao- Indonesia
tanggal 19 Maret 2012, jam 09.00
Hadi
kusuma, hilma.Antopologi agama,bandung
: Citra Aditya bakti, 1993.
Sou
yb, Josef, agama-agama besar di dunia
Jakarta: husna Zikra, 1996
Tanggok,
Ikhsan, Mengenal Lebih Dekat Agama tao,
Jakarta : UIN Jakarta Press, 2006.
Fung Yu-Lan, Sejarah Filsafat Cina,Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 2007
[1]
Prof. H.M Arifin. M. Ed. Menguak Misteri
Ajaran Agama-Agama Besar.h.40
[2]
Joesoef Sou’yb. Agama-Agama besar Dunia
[3]Tanggok, Ikhsan, Mengenal Lebih Dekat Agama tao,(Jakarta
: UIN Jakarta Press, 2006.
[4]http:// universal.
Hermantan.com/2009/05/gambaran
perkembangan agama tao- Indonesia
[5]Arifin
Prof. HM, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar Dunia,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar